LIGA DESA BUMI CENDANA SEBAGAI SARANA PENGGALANGAN POTENSI BIBIT SEPAK BOLA DI TTS NAMAS

Oleh  :  Charles Lakapu

Eltari Memorial Cup 2019 yang berlangsung meriah di Bumi Ray Malaka hampir tiba di sesi penghabisan setelah Klub PS. Malaka dan Klub Persamba berhasil meraih tiket ke laga Final. Even sekelas Liga Tiga tahun 2019 ini benar menjadi ajang pertunjukkan potensi putera-putera terbaik dari masing-masing Kabupaten se-Propinsi Nusa Tenggara Timur. Terlepas dari segala kekurangan yang  menjadi sorotan publik pecinta sepak bola di Bumi Flobamorata ini, sesungguhnya even ETMC telah menjadi fokus perhatian. Selain menghibur, sesungguhnya ETMC 2019 telah membangkitkan kembali semangat juang anak-anak Bumi Cendana Wangi yang sudah sekian lama redup dari dunia Sepak Bola NTT. Keberhasilan Skuad Cendana Wangi Perss SoE yang tahun ini melenggang menembus babak penyisihan menjadi satu titik pembalikkan bahwa sesungguhnya Publik TTS merindukan adanya satu tim sepak bola yang kuat dan modern ada di TTS.

Pers SoE telah memenangkan hati rakyat TTS saat maju ke babak delapan besar meski akhirnya langkah terhenti setelah dalam waktu injur time babak kedua, Perse Ende berhasil membobol gawang Pers SoE lewat sentuhan badan pemain Perse Ende. Meski terhenti di Babak delapan besar, Perss SoE sudah berhasil membuat rakyat TTS jatuh cinta. Cinta akan Perss SoE menjadi lekat dan lengket dengan bersinarnya satu pemain asli TTS yakni Pollycarpus Boimau (Cordy) yang berhasil mematahkan serangan bertubi-tubi  Skuad Kelimutu Perse Ende ke gawang Perss SoE selama 2 x 45 menit waktu normal berlangsung. Bukan saja pujian yang berkumandang di seantero Bumi TTS Namas, salut dan simpati pada Perss SoE dan kepiawaian anak asli TTS menggelinding bola dan menerkam kulit bundar pun mengudara di Seantero Nusa Tenggara Timur. Flobamora Terupdate di Publik Ngada Bangkit menulis, “ Masih tentang dia pahlawan PERSS SoE  Pollycarpus Boimau yang berhasil melakukan 62 penyelamatan gemilang selama 90 menit saat berhadapan gempuran para pemain PERSE Ende. Bayangkan jika separuh dari itu terjadi Gol. Ini rekor yang sulit terpecahkan sebagai kiper dengan penyelamatan  terbanyak selama 90 menit bertanding di turnamen ETMC. Pra Pon NTT bisa pakai dia, beliau punya naluri hebat membaca arah bola. Selebihnya tinggal dipoles saja.”

Gambaran khusus pada Bintang Sepak Bola ETMC 2019 asal TTS Cordy Boimau ini sesungguhnya adalah tipikal umum anak-anak desa yang sedari lahirnya sudah memiliki bakat alam. Anak-anak TTS memiliki bakat alam dalam bidang Olah Raga. Tentang bakat alam yang dimiliki kebanyakan anak TTS dapat ditemukan dalam kebersamaan anak-anak desa yang bermain sepak bola secara spontan tanpa alas kaki dengan kondisi lapangan seadanya juga dengan bola yang digulung dari bahan plastik dan bahkan ada yang menggunakan lemun pepermus menjadi bola. Biasanya ini dilakoni oleh anak-anak desa yang menyalurkan bakat sepak bola. Sebuah semangat yang mestinya menjadi lirikan kita untuk dikembangkan. Tentang fenomena bakat alam ini, Cordy Boimau mengisahkan bahwa bakat dirinya menjadi penjaga gawang sejak usia tujuh (7) tahun saat bermain dengan anak-anak sekampung yang tanpa alas kaki. Di sisi lain, Sang Legendaris Sepak Bola Perss SoE  Doktor Jhoni Lumba dalam memorinya ada tertulis bahwa hobi sepak bola menjadi bakat sejak kecil dan bahkan ketika Sang Ibundanya menggerutu bahwa Beliau disekolahkan bukan untuk main bola, Sang Legendaris yang berhasil membawa Perss SoE mengangkat Tropi ETMC pada tahun 2000 tetap mengejar ilmu di bangku pendidikan tetapi tidak meinggalkan Sepak Bola dalam hidupnya. Pada bagian lainnya ada satu bukti lagi bahwa sesungguhnya TTS memiliki potensi alamiah di dunia Sepak Bola tercatat pada diri Erik Kaba, seorang anak remaja potensial asal TTS yang dikirim oleh Kementrian Desa untuk mengenyam ilmu sepak bola di Negeri Belanda. Sesungguhnya ANAK DESA TTS MEMILIKI POTENSI ALAMIAH DI BIDANG OLAHRAGA SEPAK BOLA dan cabang olahraga lainnya.

Meski fakta bahwa kebanyakan putera dan puteri TTS memiliki bakat alam di Cabang Olahraga khususnya Sepak Bola, namun Sepak Bola di TTS pada umumnya masih sebatas perspektif, cara menonton, cara komentar dan cara menilai, belum sampai pada tataran cara managerial, cara bina, cara kompetisi dan cara berprestasi. Kenyataan sembilan belas tahun berlalu setalah Sang Legendaris melesatkan sebuah shoot ball ke gawang PSKK tahun 2000 dan menghantar PERSS SoE menjuarai ETMC saat itu, Sepak Bola TTS baru kembali bersinar setelah Agus Missa dan tim official berhasil menghantar Pollycarpus Boimau dan Team PERSS SoE menembus delapan besar di Bumi Ray Malaka. Sampai pada titik ini muncul pertanyaan haruskah Kebangkitan PERSS SOE dibiarkan untuk tetap berkibar di even mendatang atau malah dibiarkan kembali redup? Haruskah bakat alam yang dimiliki kebanyakan anak-anak desa di TTS tetap berada pada skala lokal yang tidak bisa menggapai Sepak Bola Modern? Tentu tidak. Sudah saatnya para stakeholder dari Pemerintah Daerah sampai tingkat Desa bersinergi untuk tetap mengibarkan Bendera PERSS SoE demi martabat Daerah Kabupaten TTS di kancah Sepak Bola Indonesia. Optimisme ini bisa teraih jika mulai saat ini antar stakeholder bergandengan tangan. Salah satunya yakni melalui even LIGA DESA BUMI CENDANA.

“Liga Desa Bumi Cendana ini bisa diinisiasi bersama oleh stakeholder di tingkat Kecamatan dan Tingkat Desa di bawah koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten sebagai sarana untuk menggali dan menggalang potensi usia produktif anak-anak desa dalam bidang Olahraga. Dengan demikian maka Olahraga bukan hanya sebatas Pendidikan formal dengan teori semata tetapi diimplementasi dengan praktek yang membooming. Desa-Desa di radius Kabupaten Timor Tengah Selatan harus dicerahkan untuk menjadikan pemberdayaan anak-anak desa potensial di bidang olahraga khususnya Sepak Bola untuk menjadi program prioritas di desa dengan memasukkan  dalam Postur Tubuh APBDes. Selanjutnya secara tekhnis bisa dibangun koordinasi antar Dinas PMD3A dan Dispora serta Koni TTS untuk menyelenggarakan even Liga Desa sebagai ajang menjaring potensi Sepak Bola andalan menjadi satu tim tangguh Kabupaten TTS untuk bertanding di even-even tingkat Propinsi dan kalau bisa masuk dalam level Liga satu dan Liga dua Indonesia.”

Liga Desa dengan pola bergandengan antar Dinas PMDP3A dan Dispora TTS juga Koni TTS akan menjadi satu pintu masuk kebangkitan keberlanjutan PERSS SOE dalam mengharumkan nama Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Hal ini tidak mustahil untuk dilakukan sebab Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah menyiapkan empat program prioritas untuk mendorong daerah-daerah yang masih tertinggal agar menjadi maju. Salah satunya adalah membangun sarana olah raga di Desa –Desa. Selama ini sarana olahraga di desa sangat minim. Sarana Olahraga di Pusat Kabupaten TTS pun seperti tidak terurus. Belum lagi ditilik dari sisi managerialnya. Kementrian Desa PDTT mengharapkan “Selain melihat potensi ada atlet di Desa, program sarana olahraga ini juga untuk memberi tambahan aktivitas pada generasi muda supaya mereka menyalurkan kelebihan energinya untuk hal positif” tutur Menteri Desa PDTT Eko Sandjojo pada tanggal 14 Agustus tahun lalu di Kantor Kemendes PDTT.

Ini berarti bahwa jika Pemerintah Daerah Kabupaten TTS bergandengan tangan sampai tingkat desa maka Sarana Olahraga Desa juga akan menggeliatkan kehidupan ekonomi di Desa selain menggalang potensi atlet-atlet berbakat di Desa untuk menjadi tim tangguh. Dalam merealisasikan keberlanjutan menjaring atlet-atlet Desa, Kementrian Desa PDTT telah menggandeng Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk melaksanakan LIGA DESA NUSANTARA. Pertandingan-Pertandingan antardesa yang digelar lewat even Liga Desa sesungguhnya menjadi motivasi anak-anak dan remaja untuk mengasah secara lebih baik. Dengan begitu akan lahir klub-klub  olahraga di Desa yang pada akhirnya menghasilkan atlet-atlet berprestasi. #SEMOGA…..

 

 

9 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *