TAMPAR SISWA SAMPAI TELINGA BERDARAH, S.T DI JERAT UU.PERLINDUNGAN ANAK

POLLO-SURYATTS.COM, Ifran Betty(16) siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Amanuban Selatan Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, bersama orang tuanya Yusuf Betty dan Istarina Sabat, akhirnya memilih melaporkan S.T,  Oknum guru SMA ke Kepolisian Sektor Amanuban Selatan dengan dugaan telah melakukan penganiayaan terhadap Ifran Bety dimana sesuai pengakuan Ifran dirinya ditampar dan dicubit berulang kali pada pipi dan telingannya yang  mengakibatkan telinganya mengeluarkan darah serta bagian perut kiri mengalami memar.

Orang tua kandung Ifran, Yusuf Betty dan Istarina Sabat saat ditemui media ini dikediamannya Senin (19/8/2019) mengungkapkan kekecewaan mereka atas kejadian yang menimpa anak mereka

“Sebagai orang tua, kami sangat menyesal atas tindakan dari guru tersebut. Cara bina anak saya tidak seperti ini, masa hanya karena anak kami tidak berpartisipasi dalam perayaah HUT RI harus dipukul sampai telinganya berdarah serta badannya memar.”

“Kami juga bisa bina anak kami, tapi tidak pernah sampai berdarah seperti ini. Untuk itu, karena kami sudah melaporkan hal ini kepada pihak berwajib, kami berharap adanya keadilan bagi anak kami Ifran Betty.” Harap Yusuf Betty

Ifran Betty saat ditanya tentang kronologis kejadian yang menimpa dirinya, mengatakan “Sekitar pukul 07.00 pagi, saya bersama beberapa teman di panggil ET(Oknum Guru Yang Memukul Ifran). Setelah bertemu ET, saya di Tanya oleh Pak Guru ET, ‘Kenapa baru-baru tidak ikut gerak jalan’ saya jawab “Pemalas Pak Guru” setelah jawab saya langsung di tampar dan di cubit hingga keluar darah”Kisah Ifran

Terkait kebenaran kejadian ini, Kapolsek Ipda Made Wijaya,SH saat dihubungi Via WhatsApp(WA) membenarkan adanya Laporan/Pengaduan dari Yusuf Betty(53) Ayah kandung korban.

“Benar bahwa pada senin, 19 Agusutus 2019 sekitar pukul 14.00 Wita telah datang ke Mapolsek Amanuban Selatan Orang tua kandung dari Ifran Betty untuk melaporkan kejadian yang terjadi pada anak mereka(Ifran Betty).” Kata Kapolsek Made

Masih menurut Kapolsek “Sesuai laporan yang kami terima, bahwa pada hari senin (19/8/2019) sekitar pukul 07.00 Wita, Korban(Ifran) dipanggil ke ruang guru untuk menghadap, kemudian korban(Ifran) disuruh berlutut dan dipukul di bagian pipi kiri dan kanan sehingga mengeluarkan darah dan rasa sakit pada bagian telinga serta di cubit pada bagian perut kiri yang berakibat mengalami luka memar”,

“karena siswa tidak mengikuti kegiatan gerak jalan saat perayaan 17 Agustus, bolos dari sekolah lewat pagar merupakan alasan siswa tersebut di pukul oleh oknum guru tersebut. Dari kejadian ini, kami masih menunggu hasil visum dari dokter di Puskesmas Batuputih dan kami tetap menjujung asas praduga tak bersalah. untuk pasal yang disangkakan kepada tersangka, yang pasti Undang-undang Perlindungan anak pasal 80 dengan ancaman hukuman 5 tahun, jika luka berat kita pakai pasal subsidernya yaitu pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman penjara dua tahun delapan bulan” Pungkas Kapolsek Ipda Made Wijaya,SH

Kritikan keras datang dari Anggota DPRD Daerah Pemilihan Lima Hendrikus Babys saat mengetahui kejadian ini, dirinya mengatakan “Sebagai wakil rakyat dari dapil 5 sangat menyesali sikap yang ditunjukan oknum guru E.T, sebenarnya sebagai seorang tenaga pendidik tidak  harusnya menggunakan cara kekerasan. tapi dengan ilmu yang dimiliknya harusnya bisa mencari solusi lain untuk mengatasi anak didik tersebut bukan pakai cara kekerasan.” Ucap Hendrikus Babys

Masih menurut Hendrikus Babys “JIka kekerasan merupakan solusi yang dipakai, ditakutkan akan menjadi budaya dan kebiasaan yang sesewaktu bisa saja kejadian seperti ini terulang lagi. Selain itu, karena segala ururusan yang berkaitan dengan SMA adalah urusan di Provinsi maka sebegai pemerintah daerah kami minta adanya keseriusan terhadap kejadian ini. Harap Hendrikus Babys.

Tokoh Masyarakat Amanuban Selatan, Nope Nabuasa saat dihubungi tentang kejadian ini mengatan “Kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi, karena saat ini sudah ada aturan yang membatasi guru agat tidak lagi pukul murid apalagi sampai berdarah seperti ini. Untuk itu selaku Tokoh masyarakat saya mohon kepada pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk bisa menindaklanjuti kejadian ini serta memberikan sanksi disiplin bagi oknum guru yang telah melakukan hal ini.

Kenapa harus ada sanksi tegas dari pemerintah, agar ada efek jerah dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi” Pungkas Nope Nabuasa.(YABES)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *