Pemkab, Nyatakan Status KLB;  Saat Kritis Hingga Meninggal, Almarhum Elias Asbanu Tidak Di Dampingi Dokter

Kota Soe-Suryatts.com, Pengakuan mengejutkan, terkuak dari Rince Selan keluarga Almarhum Elias Asbanu yang menceritakan keadaan almarhum sebelum menghembuskan nafas yang terakhir

“Saya Rince Selan, almarhum secara struktur keluarga adalah om(paman) saya. dua(2) hari dirawat di Puskesmas Panite, saya terus jaga alamarhum sampai meniggal. Jika kaka mereka tanya tentang keberadaan dokter saat masa kritis sampai almarhum meninggal, saya bisa jelaskan bahwa. Dokter memang ada, bukan tidak ada, tapi dokter katanya dari kualin bukan dokter di Puskesmas Panite.”,

“Alamarhum terakhir diperiksa sekitar pukul 11.00 Wita atau pukul 12.00 tanggal 16/10/2019. setelah itu, sesuai informasi yang kami dengar setelah periksa pasien di Puskesmas Panite dokter kembali ke Kualin.”,

“Almarhum mulai mengeluh kesakitan, sekitar pukul 14.00 Wita. Pengeluhan almarhum di bagian perut dan dadanya, serta almarhum mencret. Dalam keadaan tersebut, kami hanya ditemani mama Kepala Puskesmas dan beberapa perawat saja tanpa dokter. Ini keadaan yang terjadi, kalau dokter ada tidak tau kejadiannya seperti ini atau tidak.Tapi semua, sudah jadi kehendak yang kuasa.”Pungkas Rince

Meresponi hal ini, Wakil Ketua DPC Pospera Kabupaten Timor tengah selatan Fredik Kase saat dihubungi media ini (18/10/2019) mengatakan “Berbicara tentang kejadian ini, saya lebih fokus ke status kejadian luar biasa(KLB) yang di tetapkan pemerintah Kabupaten TTS sebelum ada korban meninggal dalam kejadian ini.” Ucap Fredik

Fredik juga mengatakan “Sebenarnya saat Bupati mengatakan status ini menjadi kejadian luar biasa(KLB), standar pelayanan yang dipakai itu seperti apa? ataukah hanya ungkapan semata, terbukti dengan meninggalnya Almarhum Elias Asbanu saat status kejadian ini sudah menjadi Kejadian Luar Biasa(KLB).”,

“Sehingga kita tidak hanya bicara Kejadian Luar Biasa tapi apakah sudah ada dokter yang siap di lokasi kejadian, apakah ketersediaan perawat mencukupi untuk penanganan kejadian tersebut serta apakah ketersediaan obat cukup atau tidak jangan sampe statusnya saja yang KLN tapi tidak diikuti dengan penanganan yang optimal.” Jelas Fredik Kase

Lebih Lanjut Fredik Kase mengatakan “Kalau sampai ada korban yang meninggal dalam status Kejadian Luar Biasa seperti ini, maka menurut saya pemerintah telah lalai sehingga kejadian ini terjadi. Bupati juga harus bisa memberikan teguran bahkan sanksi kepada Kelapa Dinas Kesehatan, mengapa karena harusnya Kadis kesehatan dan Tim Dinas Kesehatan yang harus lebih berperan dalam kejadian ini, tentunya dengan berada di lokasi kejadian dan bisa melihat lebih dekat apa saja yang dibutuhkan dalam kejadian ini sehingga bisa berkordinasi dengan pemerintah di kabupaten guna memenuhi kebutuhan tersebut tapi ini yang terjadi tidak seperti yang seharusnya saat status telah menjadi Kejadian Luar Biasa(KLB).

Sehingga, menurut saya. yang paling bertanggungjawab dalam keadaan ini adalah Pemerintah Kabupaten Timor tengah selatan” Pungkas Fredik.

Ketua DPRD Provinsi Nusa tenggara timur Emilia Nomleni yang sempat ditemui media ini usai melayat ke tempat duka mengatakan “Ini merupakan pelajaran dan catatan penting bagi DPRD dan Pemeritah sehingga  ke depannya bisa lebih baik lagi. Dalam keadaan ini, kita bukan berbicara tentang kematian karena kematian merupakan waktu Tuhan. Tetapi yang harus kita kerjakan saat ini adalah bagaimana pemerintah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Baik itu Hak Hidup, Hak untuk mendapatkan kesehatan, Hak untuk mendapat pendidikan, Hak untuk sehat dan itu wajib dipenuhi oleh Pemerintah”Tegas Emi Nomleni.(Yabes)

7 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *