Kasus Pemerkosaan Di Linamnutu; SSP Sebut Polres TTS Harus Bertanggung Jawab

Kasus Pemerkosaan Di Linamnutu; SSP Sebut Polres TTS Harus Bertanggung Jawab

Kota Soe-Suryatts.com, Merasa penanganan kasus dugaan pemerkosaan yang dialami RB lambat ditangani Kepolisian Resort Timor tengah selatan hingga mengakibatkan tersangka memiliki ruang yang akhirnya melarikan diri hingga saat ini belum diketahui keberadaannya.

Melihat keadaan ini, Yayasan Sanggar Suara Perempuan Soe akhirnya melayangkan surat kepada kepolisian resort Timor tengah selatan dengan perihal meminta adanya ketegasan dalam penanganan kasus pemerkosaan yang dialami klien mereka sejak 1 Oktober 2019 namun sampai saat ini pelakunya buron serta barang buktinya tidak di ambil pihak berwenang.

Dengan nomor surat 73/SSP-SEK/XI/2019, Yayasan Sanggar Suara Perempuan sebagai lembaga pendampingan bagi korban kekerasan perempuan dan anak di TTS. Merasa prihatin dengan kondisi yang dialami korban RB yang sampai saat ini masih trauma dan takut dikarenakan pelaku masih berkeliaran dan belum berhasil di tangkap pihak berwajib.

Direktur Yayasan SSP dalam suratnya menyesalkan sikap Penyidik Polres TTS yang tidak langsung menindaklanjuti Laporan Polisi klien mereka tetapi melimpahkan kembali ke Polsek Amanuban Selatan

“Pada tanggal 2 Oktober 2019 sehari usai kejadian malang yang menimpa RB, orang tuanya langsung ke Polres untuk melaporkan perbuatan tersangka Benyamin Selan. Namun yang terjadi, setelah orang tua korban diambil keterangannya bukannya terlapor diamankan tapi laporannya dikembalikan ke Polsek Amanuban Selatan. Ini kan aneh? Unit PPA Kan ada di Polres kenapa harus dilimpahkan kembali ke Polsek”

“Sehingga menurut kami dari SSP, akibat dikembalikannya penanganan kasus ini ke Polsek membuat adanya ruang waktu yang dimiliki oleh terlapor Benyamin Selan untuk melarikan diri dan terbukti hingga saat ini keberadaan tersangka belum diketahui”

“Sehingga atas kejadian ini, serta merujuk pada Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia yang diatur secara jelas di dalam pasal 16 huruf(a) dan dalam KUHAP Pasal 5 huruf (b), kami tegaskan bahwa Kepolisian Resort Timor tengah selatanlah yang paling bertanggung jawab untuk mencari, menangkap dan menahan pelaku”,

Selain itu, perlu diketahui bahwa saat ini korban RB tidak merasa aman karena Tersangka belum diamankan pihak berwajib. Karena Benyamin Selan (tersangka) sering meresahkan masyarakat dengan caranya, bukan tidak mungkin korban dan keluarganya bisa saja mengalami hal yang sama jika tersangka kembali.”

Untuk itu, Kami dari Yayasan Sanggar Suara Perempuan memiliki beberapa tuntutan sebagai berikut; Kami minta Kepolisian Sektor Amanuban Selatan dan Satuan Reskrim Polres TTS agar segera melakukan tindakan penyidikan guna menangkap dan menahan tersangka sesuai aturan yang berlaku. Untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak yang sudah dilaporkan ke Mapolres TTS, wajib ditindaklanjuti dan tidak dilimpahkan lagi ke Polsek. Polres TTS, harusnya sudah menetapkan tersangka dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dibuatkan Surat Pencarian Orang serta segera melakukan penyitaan mobil Izuzu warna biru milik tersangka yang digunakan dalam melakukan aksi bejatnya sebagai barang bukti.” Jelas Rambu A. Mella

Sesuai informasi yang diperoleh media ini, selain Polsek Amanuban Selatan, Surat penegasan penanganan kasus perkosaan yang di alami RB siswi 15 tahun di salah satu sekolah kejuruan dalam wilayah kecamatan Amanuban Selatan ini juga diberikan ke Kapolda NTT, Kapolres TTS, Kasat Reskrim Polres TTS, LPSK RI dan Ombudsman NTT. (Yabes)

3,386 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *