Thu. Jan 21st, 2021

SURYATTS

Timor Tengah Selatan

Tunjukan Kemaluannya Lewat WAl, Korban Minta Pelaku Diproses Hukum

KUPANG, -Suryatts. Com, –Kasus dugaan Tindak Pidana ITE yang heboh beberapa waktu lalu di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, kini menuai tanda – tanda kemajuan dengan diterbitkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SPP2HP) oleh pihak Direkrimkus Polda NTT, (SPP2HP) Nomor:B/107/X/RES/2.5/2020.Ditreskrimsus Tanggal 1 Oktober 2020.

Kepada media ini ketiga korban secara tegas meminta pihak penyidik Polda NTT untuk segera menindak lanjuti laporan kasus dimaksut agar pelaku segera di adili dan diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Kita minta Dia (pelaku,red) segera diproses hukum guna dimintai pertanggung jawaban hukum atas perbuatannya”. Pinta korban NA diamini VA dan PA.

Sesuai laporan polisi nomor : LP/B/374/1X/RES,2,5/2020/SPKT Tertanggal 21 September 2020, kasus dugaan Tindak Pidana Undang – Undang ITE yang melibatkan pelaku (KA) ini, sesuai ternyata telah “memakan” korban sebanyak enam (6)orang.

Hal ini sesuai hasil wawancara media ini di kediaman korban yang berhasil ditemui sebanyak 3 orang. Sedangkan 3 orang lainnya tidak sempat ditemui karena sedang mengikuti perkualiahan.

Fakta yang terungkap di TKP pada Sabtu, (19//09/2020) saat media ini menyambangi ketiga korban dikediamannya , ternyata menguak informasi baru terkait identitas ketiga gadis yang menjadi korban Tindak Pidana Undang – Undang ITE tersebut,. Ketiga korban ternyata masih kakak beradik yakni, NA (20), VA (26) dan PA (24).

Ketiga korban secara polos mengaku kerap mendapatkan sms dan telepon dari seseorang yang mengaku dirinya adalah “Kris Aluman” dan mengajak mereka berhubungan badan layaknya wanita panggilan dengan bayaran tarif sebesar Rp 500ribu, Rp 750ribu hingga Rp 1 juta.
Selain sering mendapat telepon dari pelaku, korban juga mengaku jika pelaku, sering mengirim gambar porno dan menunjukan kemaluannya lewat Wahatsapp kepada salah seorang korban NA (20) hingga membuat korban mengalami tekanan secara psikologis dan trauma.

“Benar, palaku hampir setiap hari menghubungi saya via SMS, ponsel dan Whatsapp, dengan maksut memboking saya, layaknya wanita panggilan atau PSK (Pekerja Seks Komersial). Dia ajak saya untuk boking satu malam dengan bayaran, Rp.500 ribu, Rp, 750 ribu, hingga Rp.1 juta. Lalu dia bilang nanti dengan b pu bos e…(nanti dengan bos saya ya_red). Terus disaat yang sama, saya juga mendapat video call dimana dia menunjukkan alat kelaminnya kepada saya.” Beber NA.

Hal ini juga dibenarkan VA dan PA. kedua wanita tersebut juga mengaku sering mendapat sms dan telepon untuk di ajak tidur dengan bos seseorang yang mengaku dirinya bernama Kris Aluman.

Hingga berita ini diturunkan, perkembangan penanganan kasus dimaksut sedang ditangani penyidik Direskrimkus Polda NTT.

Sedangkan Ketiga korban sudah didampingi kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT dan mendapat dukungan dari DPW Media Online Indonesia (MOI) NTT.(Kornel)

6,269 total views, 4 views today